Di negara dengan sektor pertanian dan perikanan yang menyerap jutaan tenaga kerja, jurusan vokasi di bidang ini justru termasuk yang paling sepi peminat. slot gacor Sementara itu jurusan teknik komputer dan jaringan atau akuntansi menerima pendaftar berkali lipat dari daya tampung. Ketimpangan ini menyimpan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar tren pilihan siswa.
Citra yang Melekat
Alasan yang paling sering muncul dari siswa dan orang tua adalah citra pekerjaan. Bertani dan melaut diasosiasikan dengan kerja fisik berat, penghasilan tidak pasti, dan status sosial rendah. Banyak orang tua yang berprofesi sebagai petani secara eksplisit tidak ingin anaknya mengikuti jejak mereka.
Asosiasi ini tidak muncul dari kekosongan. Pengalaman langsung melihat orang tua bekerja keras dengan hasil yang bergantung cuaca dan harga pasar membentuk kesimpulan yang masuk akal.
Jarak Antara Kurikulum dan Praktik Sektor
Persoalan lain menyangkut isi pembelajarannya. Sebagian program vokasi pertanian masih mengajarkan praktik yang tidak jauh berbeda dari yang sudah dilakukan turun temurun, sehingga siswa tidak melihat nilai tambah dari bersekolah untuk mempelajarinya.
Padahal sektor ini sedang berubah cukup cepat. Ada teknologi sensor kelembapan tanah, sistem irigasi terjadwal, pemetaan lahan dengan drone, budidaya sistem tertutup dengan pengendalian kualitas air, dan rantai distribusi yang makin bergantung pada platform digital. Kemampuan-kemampuan ini menuntut kombinasi pengetahuan biologi, teknik, dan pengelolaan data.
Ketika kurikulum tidak mengikuti perubahan itu, lulusan masuk pasar kerja dengan keahlian yang memang tidak lebih baik dari orang yang belajar dari pengalaman.
Keterbatasan Fasilitas
Vokasi bidang ini menuntut lahan, kolam, ternak, atau peralatan yang butuh biaya perawatan berkelanjutan. Berbeda dengan laboratorium komputer yang bisa dipakai bergantian tanpa habis, makhluk hidup butuh perawatan setiap hari termasuk saat libur sekolah.
Banyak sekolah akhirnya mengajarkan sebagian besar materi secara teoretis dengan praktik minim, yang menghasilkan lulusan tanpa pengalaman tangan yang justru menjadi alasan utama memilih jalur vokasi.
Ketersediaan Pengajar
Guru vokasi bidang ini idealnya punya pengalaman lapangan aktual, bukan hanya latar akademis. Tapi orang dengan keahlian praktis yang kuat di sektor ini biasanya punya pilihan penghasilan lain yang lebih menarik daripada mengajar.
Kemitraan dengan pelaku usaha di sekitar sekolah bisa menjadi jalan keluar, meski penerapannya menuntut kejelasan soal peran, waktu, dan kompensasi yang sering menjadi ganjalan.
Kasus yang Berjalan Baik
Ada sekolah yang berhasil membalik keadaan dan memiliki peminat yang stabil. Pola yang berulang di kasus-kasus ini adalah keberadaan unit usaha yang benar-benar berjalan komersial. Siswa tidak sekadar praktik, tapi terlibat dalam produksi yang produknya dijual ke pasar nyata, lengkap dengan tuntutan kualitas dan tenggat.
Pola kedua adalah keterhubungan dengan pelaku usaha yang membuka jalur magang dan rekrutmen. Ketika siswa melihat kakak kelasnya bekerja dengan penghasilan layak, citra jurusan berubah tanpa perlu kampanye.
Ketahanan Pangan sebagai Konteks
Di luar urusan karier individu, ada dimensi yang lebih besar. Usia rata-rata petani di banyak wilayah terus naik, dan regenerasi berjalan lebih lambat dari laju pensiun. Kalau tren ini berlanjut, ketergantungan pada impor pangan akan meningkat.
Pendidikan vokasi bidang ini bukan sekadar penyalur tenaga kerja, melainkan salah satu titik intervensi untuk regenerasi yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pewarisan keluarga.
Penutup
Sepinya peminat vokasi pertanian dan perikanan mencerminkan kalkulasi rasional siswa dan orang tua terhadap prospek yang mereka lihat. Menyalahkan pilihan mereka tidak menyelesaikan apa pun. Yang bisa diubah adalah kondisi yang mendasari kalkulasi itu, mulai dari isi pembelajaran, kualitas praktik, sampai kejelasan jalur menuju penghidupan yang layak. Selama kondisi itu tidak berubah, ketimpangan antara kebutuhan sektor dan minat pelajar akan terus melebar.




